LUBUK PAKAM – Hukum dan ketertiban di wilayah Kabupaten Deliserdang seolah sedang diolok-olok. Sebuah kawasan yang dijuluki sebagai "Las Vegas" lokal kini beroperasi secara terang-terangan dan masif di Jalan Sudarsono, Desa Pagar Jati, Kecamatan Lubuk Pakam. Praktik perjudian berskala besar ini seakan menantang wibawa dan ketegasan aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Deliserdang.
Berdasarkan hasil pantauan dan informasi yang dihimpun di lapangan, arena perjudian ini berlokasi strategis, tepat di samping Kafe BOY. Tempat tersebut telah bertransformasi menjadi "surga" bagi para penjudi, menyajikan paket lengkap permainan haram mulai dari judi dadu putar, mesin ketangkasan tembak ikan, hingga berbagai jenis judi kartu.
Beroperasi dari sore hari hingga menjelang pagi, lokasi ini tak pernah sepi pengunjung. Ironisnya, di tengah gencarnya instruksi Kapolri untuk memberantas segala bentuk penyakit masyarakat, arena judi di Pagar Jati ini justru terkesan kebal hukum dan tak tersentuh operasi kepolisian.
Sistem Keamanan Berlapis dan Terafiliasi Sindikat Besar
Keberanian pengelola untuk membuka arena judi secara vulgar ini rupanya didukung oleh sistem keamanan dan pelindung yang kuat. Para pengunjung dan pemain dilaporkan merasa sangat aman untuk bertransaksi dan berjudi di lokasi tersebut.
Untuk menjaga eksklusivitas dan mencegah masuknya pihak yang tidak diinginkan, pengelola menerapkan One Gate System (sistem satu pintu utama). Akses masuk ini dijaga ketat berlapis oleh sejumlah pria berbadan tegap yang bertindak sebagai "benteng" arena.
Investigasi lebih dalam mengungkap nama-nama besar di balik layar yang menggerakkan roda perjudian ini. Operasional harian di lapangan diduga kuat dikendalikan oleh seorang koordinator bernama Martin. Namun, Martin hanyalah perpanjangan tangan.
Di atas Martin, berdiri sosok pengendali utama berinisial Ai. Di kalangan dunia gelap perjudian Deliserdang, Ai bukanlah nama asing. Ia diketahui merupakan "tangan kanan" sekaligus orang kepercayaan dari Aseng Kayu (AK)—sebuah nama yang santer disebut-sebut sebagai bos besar mafia perjudian di wilayah tersebut. Jaringan terorganisir inilah yang diduga membuat hukum seolah tak berdaya menyentuh lokasi di samping Kafe BOY tersebut.
Masyarakat Menanti Ketegasan Polresta Deliserdang
Bebasnya jaringan Ai dan Aseng Kayu mengoperasikan mesin tembak ikan dan dadu putar memicu keresahan sekaligus kecurigaan di tengah masyarakat.
"Ini menjadi tanda tanya besar. Lokasinya jelas, keramaiannya terlihat setiap malam, penjagaannya ketat, tapi kenapa polisi seolah tidak tahu? Apakah hukum kita tumpul ke atas ketika berhadapan dengan sindikat besar?" ujar salah seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya demi keamanan.
Masyarakat kini secara terbuka menantang ketegasan Kapolresta Deliserdang beserta jajarannya. Publik menanti tindakan nyata berupa penggerebekan menyeluruh, penyitaan mesin-mesin judi, dan yang paling penting: penangkapan para dalang utama.
Masyarakat berharap polisi tidak hanya menangkap para pemain kelas teri, tetapi juga membongkar dan menyeret petinggi sindikat seperti Martin, Ai, hingga bos besar Aseng Kayu ke meja hijau. Ketegasan aparat penegak hukum kini dipertaruhkan untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun kelompok atau individu yang berdiri di atas hukum di Tanah Air, khususnya di wilayah Deliserdang.